“temukanlah agama yang paling benar dan baik buat lo, bukan agama yang by default diturunkan dari orangtua lo, gitu.”

-pandji.

begitulah hidup. cuma membolak balik buku sejarah.

gue. saya. aku. alah. belom juga mulai wes bingung mau pake kata ganti apa. mari kita putuskan.

jadi, saya memutuskan untuk memakai saya sebagai kata ganti orang pertama bagi saya sendiri. kalau-kalau kalian para  pembacaku, yang mana tidak pernah ada itu, mungkin bertanya-tanya, sedang apakah saya sekarang ini? maka, dengan berat hati, karena saya sebetulnya tidak ingin menjawabnya, maka saya akan menjawab bahwa saya berada di kamar kos-kosan saya yang berukuran 3×4 meter, dengan tv masih menyala, dan lampu yang dimatikan seluruhnya, sambil mengetik tulisan ini.

kalau-kalau lagi, ada yang bertanya kenapa saya menulis semalam ini? oh iya, bagi yang belum tahu, sekarang pukul 00.53 di tempat saya berada. well, kenapa saya menulis semalam ini? barangkali saya sedang rindu berat. tahu, kan, betapa seriusnya permasalahan ini sampai semua orang-orang entah siapa yang dikutip dalam official account LINE yang bernama Kumpulan Puisi berulang kali berusaha menuliskan yang mereka sebut sajak tentang hal ini. walaupun, yah, well, saya harus jujur, semua sajaknya sampah.

orang Indonesia terkenal sekali malas membaca. loh, kok malah jadi bajingan tukang menggeneralisir seperti ini? biar saja. toh, tidak akan ada yang mau baca. seperti halnya tidak akan ada yang peduli pada surat kabar atau buletin mahasiswa. yang rapatnya berbulan-bulan, memohon-mohon ratusan ribu rupiah pada bapak dekan yang mulia, kemudian memilih tema dengan pertimbangan demografi, geografi, pornografi, apalah sebagai macamnya. toh, ya, cuma berakhir jadi portofolio curriculum vitae untuk melamar kerja di bank terdekat.

alah. alah.

ndak ada yang percaya sama membaca. kecuali membaca  prestigeholics atau kumpulan puisi. ndak ada lagi yang percaya sama Pram atau Murakami atau Gabo Marquez atau Sutan Takdir Alisjahbana atau Teguh Karya atau Orhan Pamuk atau Han Kang, kecuali hipster-hipster bomber jacket yang pake kacamata bulat pepat seperti planet bumi. persetan.

sekarang saya akan terdengar sungguh negatif. tapi ndakpapa. saya sudah bosan jadi naif. saya sudah bosan berpikir positif dan menebar jala-jala kenaifan ini pada seluruh dunia. sampai akhirnya saya tahu, there is no such thing called ketulusan di dunia yang egois ini. ndak ada. satupun. semuanya saling terkait. seperti ungkapan “there is no free lunch”, ya itu benar juga. ndak ada satu orangpun di dunia ini yang mau perbuatannya di take it for granted. setiap saat kita mencoba untuk ikhlas dan tulus dalam berbuat, di detik yang sama kita akan langsung mencari-cari, kira-kira siapakah orang-orang atau hal lain yang menerima keuntungan dari perbuatan kita? setelah menimbang untung dan ruginya bagi kita, barulah kita akan melakukan hal tersebut.

semua ada hitung-hitungannya di dunia yang egois ini.

sampai sini, saya sudah cukup yakin bahwa tidak akan ada yang baca. toh, 9900 orang dari seribu orang Indonesia, entah siapa, yang di survey oleh lembaga entah apa menunjukkan kualifikasi bahwa mereka tidak suka membaca. jadi ya, sama saja. tapi hey, saya tidak bilang bahwa kalau kamu cuma suka baca sajak-sajak di line kumpulan puisi maka kamu lebih buruk dari orang-orang yang membaca Neruda. tapi, cuma, kalau kamu sudah baca Neruada mungkin kamu sedikit banyak paham maksud saya. tapi, hey lagi, saya mulai terdengar sok pintar, tapi persetanlah, memang banyak orang-orang dungu di luar sana yang menunggu untuk dikuliahi sepanjang hidupnya, jadi yasudahlah. toh, saya tidak akan bahas-bahas topik tertentu jadi well, ya, mari melantur dengan kata-kata amburadul dan mari melanggar ejaan yang disempurnakan. toh, apa salahnya menggunakan koma, berulang-,ulang, kali. ya itu disengaja. penggunaan kata dimana, disana, di sini, disitu, di mana-mana, dirumah, dimasjid, terseraaaaah. kok mau aja diatur-atur huruf.

sampai disini, ada yang mau ditanyakan?

kira-kira begitulah ucapan dosen-dosen saya ketika akan menutup presentasi mereka yang tidak jelas. yang satu kebanyakan gambar, yang satu kebanyakan tulisan, yang satu bacot doang, yang satu ngajar agama padahal ateis, yang satu ndak tau cara nyalain laptop, yo macem macem laah. universitas kelas dunia itu. jangan main-main kamu. bisa-bisa diciduk nanti.

tapi, yang paling terpenting dari semuanya adalah satu : saya rindu. ini betul-betul klise dan memuakkan. tapi dunia ini sudah penuh dengan hal-hal istimewa semenjak ada line today nampaknya (wow, mengejutkan, harga t-shirt polos yang dipakai Stefan William ; 10 artis yang mirip dengan artis hollywood, nomer 5 pasti mengagetkan ; dll, dsb). perihal seperti inilah yang men-triggered seorang Ayu Utami dan Erik Prasetya untuk menerbitkan buku berjudul Estetika Banal dan Spiritualisme Kritis. sebab, hal-hal klise semacam ini sudah terlalu jarang di angkat kembali. kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal istimewa apakah yang hendak kita sajikan hari ini. tapi ternyata tidak harus selalu begitu.

seperti hari ini. saya rindu. rindu sekali. oh, betul sekali kalau kamu membayangkan dia adalah manusia dan ini merupakan rindu-rindu picisan itu. betul sekali.

saya akhir-akhir ini kehilangan bara api di kepala saya yang membuat saya tetap waras. barangkali kamu pemicunya. kita barangkali cuma dua bocah dungu yang gemar sekali menertawai diri sendiri, dan saya rupanya cuma lupa jalan pulang.

sebuah nasihat untuk diri sendiri.

ini pertama kalinya dalam beberapa bulan belakangan saya benar benar sendirian di tempat umum. rasanya menyenangkan. hingar-bingar yang biasanya terjadi di samping kanan kiri saya, berpindah tempat di kepala saya. dengan sendirian, saya mampu mendengarkan diri saya sendiri berteriak-teriak dan berkeluh kesah. sungguh, rasanya menyenangkan.

sekarang saya sedang duduk di restoran cepat saji berwarna merah dan bergambar kakek berkacamata di salah satu pusat perbelanjaan di Yogyakarta. saya sendirian, dan di meja samping saya ada 2 orang laki-laki dan perempuan yang saling menatap layar gawai masing-masing, sambil pura-pura tidak sengaja memegang tangan saat mengambil kentang goreng. dan di depan saya, ada sepasang ibu dan anak yang merenungi minuman mereka yang rasanya itu-itu saja. 

kemudian lalu-lalang.

hidup, rupa-rupanya terlalu mengagung-agungkan kecepatan, tanpa peduli rasanya menjadi lambat. kita selalu lupa rasanya memperhatikan orang lain dan mengamati hidup berjalan. sebab di dunia yang terburu-buru ini, menjadi lambat ialah dosa besar. 

maka…melambatlah. nikmatilah. amatilah. 

percakapan-percakapan di kepala saya

Perempuan itu jahat sekali. Luar biasa jahat. Saya tidak mengerti bagaimana “senasib, sepenanggungan” bukanlah suatu konsep yang dapat dipahami entitas bernama perempuan. Terhadap sesamanya, perempuan kadang justru tidak suportif dan terkurung dalam ide-ide patriarkis yang sudah mengendap dan bersarang di kepalanya sejak kanak-kanak. Sungguh, saya tidak mengerti bagaimana perempuan bisa benar-benar jahat terhadap perempuan lain.

 

Tapi dia cantik loh.

 

Aih. Konsep-konsep penuh standar ganda seperti ini asal-muasalnya darimana sih sebenarnya? Cantik, tampan, baik, perhatian, dan omong kosong fana lainnya. Ini semua ulah marketing tentu saja. Waktu tante atau om kita punya bayi baru, hanya ada 2 pilihan warna untuk kado persalinannya, biru atau pink. Apabila dipercayai bayi yang akan lahir adalah perempuan, maka kadonya akan dominan warna pink, dan sebaliknya. Konsep-konsep omong kosong tentang korelasi warna dengan sifat-sifat lahiriah ini benar-benar menyesatkan. Ini semua hanya akal-akalan pemasaran tentang bagaimana memasarkan barang-barangnya agar dapat terjual secara masif. Dikotomi-dikotomi macam ini kerap kali membuat saya kesal.

 

Ih, dia kan introvert. Tau darimana? Iya, dari kemarin baca buku terus.

 

Bajingan. Manusia itu sungguh amat sangat penuh dengan kompleksitas. Mana bisa dengan satu jenis perilaku lantas menggambarkan keseluruhan sifatnya? Ini benar-benar suatu pembodohan yang mulai memuakkan. Saya sungguh tidak mengerti.

 

Sampai kapan kira-kira kita, manusia, dapat melepaskan diri dari label-label yang menempel pada diri kita, dan mulai dihargai sebagai… manusia?

enak bet dah

sebagai mahasiswa, rasanya ndak afdol bukan kalau ngga ikut ikutan masuk BEM? oh jelas. tentu rasanya keren dan bermutu sekali masuk ke organisasi yang kerap kali digadang-gadang sebagai ‘pabriknya’ calon pemimpin dan kerap mengkritisi berbagai hal. ah. tapi saya ndak merasa begitu. 

nanti kita sambung lagi.

tapi sebelumnya saya pengen cerita dulu. saya kerap kali mendengar dan membaca juga berbagai tulisan, artikel, wawancara, dokumentasi, dan sebagainya tentang diskriminsi terhadap minoritas di Indonesia. tapi saya tidak pernah melihatnya. sebab, sejak lahir saya telah memiliki privilege tertinggi di negara ini. Jawa, muslim, dan bapaknya PNS. Okelah yang terakhir mungkin tidak masuk hitungan hehehehe. tapi bukan itu poinnya. yang hendak saya bahas adalah betapa nikmatnya menjadi mayoritas di Indonesia.  betapa saya tidak pernah merasa kesusahan yang berarti, dan tidak pernah malu terhadap identitas saya. 

tapi sayangnya, bukan itu poinnya. 

saya kerap melihat bahwa superioritas ini kerap kali malah membuat saya tidak nyaman. seperti masuk BEM ini. 

loh kok? 

iya. BEM sudah berubah jadi media-media penyebaran dari kaum mayoritas. walaupun masih dalam taraf tidak mengganggu. tapi terus terang saya tidak nyaman. bagaimana mereka mempublikasi acara untuk umum dan menuliskan potongan ayat dari salah satu agama mayoritas dan merasa baik-baik saja. kemudian mengadakan acara-acara bertema spesifik mengenai agama tertentu dan disebar dengan cap : untuk umum. umum mana yang kita maksud disini? betapa bias batas antara ke-umum-an pada persepsi kita. betapa kemudian topik-topik tentang sekuleritas menjadi cacar berbintik di tubuh organisasi-organisasi kemahasiswaan ini.

Generalisasi? 

iya. sebab saya bukan orang-orang yang menghindar ketika di-blame. memang saya bisa jadi salah, tapi fenomena inilah yang saya temui di sekitar saya. dan frekuensinya terus meningkat dan mengalami pengulangan berkali-kali.

saya muak hidup enak dan jadi mayoritas kek gini.

sebuah kutipan.

(Sumber : instagram.com/inezdarl)

Riwayat Dolly telah tamat. Mampus, tanpa upacara. Deru-deru mucikari dan belantara-belantara jalang pria Surabaya di suntik mati. Sungguh kematian yang sunyi. Surabaya dan desau anginnya yang bau kerja keras dari Rungkut sampai Perak menyisakan noktah-noktah sunyi, tempat Dolly bersembunyi.

Riwayat Dolly telah tamat. Sungguh-sungguh mampus, tanpa upacara. Telah kusaksikan mucikari-mucikari kini berdasi, dan pelacur kini pergi ke surau. Tapi, meski sudah dipelintir, di alihkan, dimusnahkan, bahkan dilupakan, ia tak ubahnya kenangan-kenangan jahil yang menyeruak seumpama hantu yang gentayangan di pintu-pintu pikiran.

Dolly benar-benar mampus.