Sajak Pogung

Wajahmu paving pogung
Senyummu hangat-hangat magelangan dewa
Lekuk tubuhmu indomie telor dobel
tindak tandukmu lantai bumi
dihiasi keangkuhan bapak bapak penjaga griya aisha
terus merongrong dan menggerung tidak sabaran umpama perempatan jakal
Kata-katamu sambal toetoeng
kekasihmu sedingin indomaret pandega
Oh tuhan rupanya bukan hanya maha esa, tapi juga maharasa

Advertisements

Menonton Banda.

Saya mengikuti M. Irfan Ramli di Twitter. Beliau, yang akrab disapa Ipang, adalah seorang screenwriter bagi film-film ternama di Indonesia. Sebut saja, Surat dari Praha, Cahaya dari Timur, dan yang baru-baru ini sedang terkenal dan menjadi perbincangan orang-orang ramai, Filosofi Kopi. Alasan lain saya mengikuti Ipang di Twitter adalah karena beliau adalah teman Aan, iya Aan Mansyur. Saya kerap tanpa alasan yang jelas mengasosiasikan Aan dengan kebaikan. Simbolik dan dangkal memang. Bagaimana sebuah kekaguman dapat bertransformasi menjadi simbol-simbol yang kita simpul sendiri.

Tapi yang jelas, saya tidak merasa rugi mengikuti Ipang. Selain tweet-tweetnya yang menarik dan foto-fotonya yang bagus, beberapa hari belakangan ini Ipang sedang gencar-gencarnya mempromosikan film terbaru yang ia kerjakan. Judulnya, Banda. Sudah dapat di pastikan bahwa film ini menceritakan tentang kepulauan Banda. Sebuah gugus pulau di dekat maluku. Yang berisikan beberapa pulau-pulau, salah dua pulau di kepulauan Banda pernah menjadi tempat pengasingan bagi 2 bapak bangsa, Sjahrir dan Hatta, yang kemudian pulau tempat mereka di asingkan di beri nama Pulau Sjahrir dan Pulau Hatta. Film ini spesial. Sebab, ini adalah sebuah film dokumenter. Sebuah genre yang menurut saya kurang populer di bandingkan dengan drama, superhero, dan atau sci-fi yang sedang jaya-jayanya di dunia  perfilman.

Oleh karena itu, saya memutuskan menonton film Banda. Film ini disutradarai oleh Jay Subiakto, yang terkenal dengan ketajaman visual di film-filmnya. Kemudian yang bertindak untuk mengawal narasi di film ini dengan suaranya yang lembut sekaligus tegas dan mampu dengan baik menyampaikan tiap-tiap narasi di film ini adalah Reza Rahardian, di dampingi oleh Ario Bayu pada narasi Bahasa Inggris. Saya menonton film Banda ini di hari Rabu, sendirian. Saya terpukau oleh gaya penyampaian film Banda melalui wawancara-wawancaranya yang secara dalam mengupas bagaimana Kepulauan Banda pada abad-abad yang silam merupakan primadona dunia, sebuah tempat bertemunya para pencari rempah-rempah. Jalur rempah, yang kemudian menggeser Jalur Sutra, memungkinkan Kepulauan Banda menjadi pasar dunia. Bagaimana orang-orang Banda menjual rempah-rempah dari pulau mereka tanpa perjanjian tertulis melainkan cukup dengan mengangkat telunjuk ke langit dan bersumpah di bawah nama tuhan. Kemudian bagaimana tanpa alasan yang jelas, 2 negara yang jelas-jelas tidak memiliki hak apapun atas Pulau Run, Belanda dan Inggris, melakukan perjanjian yang menukar Pulau Manhattan (di New York) dengan Pulau Run, atas nama rempah-rempah.

Meskipun sekarang bisnis rempah-rempah tidak seseksi beberapa abad silam, akan tetapi pulau Banda selalu menunjukkan keindahannya. Dengan akses yang terbatas, dan transportasi yang tidak memadai, Banda menjadi sebuah dark forgotten trail yang sebenar-benarnya. Di lupakan oleh Inggris dan ditinggalkan oleh Belanda.

Film ini sungguh menarik. Saya sangat menyayangkan apabila kalian tidak menontonnya. Seperti yang pernah saya  katakan, hidup hanyalah membolak-balikkan buku sejarah. Tapi sejarah rupanya memiliki lebih banyak makna daripada sekedar membolak-balikkan realita. Sejarah bagi saya bukan cuma masa lalu yang di tulis dalam perkamen-perkamen atau dinding gua, sejarah adalah apa-apa yang telah menetes di darah kita dan membentuk kita dari daging pertama. Sejarah adalah apa-apa yang tidak seharusnya dilupakan dan di tinggalkan.

Maka, marilah bersama-sama kita menonton Banda dan berhenti melupakan apa-apa yang membentuk kita hari ini.

Mari bersama-sama kita merenungi hidup. Sebab, sebuah kutipan dari sebuah post Instagram yang sehari-hari lebih sering saya lihat dari buku, pernah mengatakan bahwa hidup yang tidak di renungi tidak pantas di jalani, ujar seseorang tersebut sambil menunjukkan pose punggungnya di pantai sambil menatap laut.

Mari bersama-sama kita merenungi hidup. Jangan takut pada pendapat-pendapat orang besar, toh mereka besar sebab kita lah yang memuja-muja. Jangan takut pada buku-buku tebal, sebab mereka itu tidak lebih dari kumpulan kata-kata yang mencoba mencerahkan kepalamu. Di ruang-ruang tanpa orang seperti ini, baik di pikiran maupun perbuatan, kita kerap mengglorifikasi makna. Identitas, ideologi, nafsu, tuhan, agama, seks, dan segala kompleksitas-kompleksitas yang kita eksklusi kan. Sedang kita, banal dalam ketidaktahuan.

Seorang kawan sekaligus kakak tingkat yang diam-diam sangat saya hormati, Gehitto alias Ichsan, pernah berkata dalam suatu tulisannya di blog pribadi-nya yang juga mereferensi pada orang lain bahwa menjadi tahu adalah dosa pertama manusia. Di kisahkan dalam berbagai kitab, bahwa Adam dan Hawa memakan buah khuldi dari pohon pengetahuan dan di murka tuhan. Tapi, mengapa? Mengapa mencoba mencari tahu menjadi sebuah dosa? Pelan-pelan saya mencari tahu. Dari muda yang masih di kagumi karena membaca buku-buku yang seharusnya di baca orang yang lebih tua, sampai sudah tua malah sibuk membaca kutipan-kutipan di Instagram. Dari mencoba membaca buku-buku agama sendiri, belajar tafsir Al-Qur’an, menonton Krishna di televisi swasta, menonton sendratari ramayana, pergi ke pameran-pameran seni kontemporer, membaca injil, menonton DaVinci Code, dan banyak lagi. Sampai akhirnya saya tiba pada keputusasaan. Saya tidak menemukan titik terang. Tanya yang tadinya cuma sebiji, rupanya seakan-akan disiram oleh keingintahuan saya yang berlebih, kemudian ia bertunas, berkecambah, kemudian tumbuh subur dan menghasilkan tanya-tanya lainnya. Saya kesulitan mencerna kehidupan. Saya kesulitan mencerna makna yang coba di sampaikan oleh tuhan, atau siapapun di atas sana. Saya mulai tidak sholat, tidak mengaji, tidak lagi melakukan hal-hal yang di anjurkan oleh agama yang by default sudah saya miliki sejak kecil. Saya tidak mengerti. Saya membaca bahwa tidak seharusnya kita bertahan pada agama yang di turunkan oleh kedua orangtua kita tanpa memahami.

Oleh karena itu, saya sempat mengambil jarak pada agama dan diskusinya. Saya mengambil jarak pada tuhan dan misterinya. Sampai akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan : bahwa misteri tidak akan pernah jadi misteri apabila rahasianya terungkap. Tuhan bekerja dengan tangan-tangannya sendiri. Saya tidak beribadah dengan maksud untuk berterimakasih dan kemudian melakukan ritual-ritual tanpa makna dan berakhir dengan delusi ketenangan setelahnya. Saya beribadah dan beritual dengan khusyuk dan (semoga) tanpa pamrih. Saya beribadah dan beritual untuk menghormati alam dan rahasianya. Saya beribadah dan beritual untuk mencari pendekatan atas makna-makna yang tidak mampu saya pahami, tapi tidak kemudian menjadi jalan pintas untuk jawaban-jawaban.

Saya akan terus bertanya dan akan terus mencari.

hatred.

kita semua hidup dalam kebencian kita masing-masing. sadar atau tidak sadar, kebencian-kebencian ini membentuk kita menjadi diri kita saat ini.

begitu juga aku.

kadang, gak kadang sih, sering, kebencian-kebencian ini muncul dan tumbuh bukan karena kemauan kita sendiri. seringkali kita, atau aku, pura-pura bilang iya pada pernyataan kebencian yang dilontarkan seorang teman. buat apa? ya biar dia merasa ada yang setuju sama pemikiran dia aja gitu. padahal ya saya gak setuju-setuju amat.

memang munafik sih. jadi kayak orang tidak punya pendirian dan tidak punya prinsip. tapi ya gitu, di dunia pertemanan, kejujuran bisa makan korban.

akhir-akhir ini rasanya saya terlalu banyak dikelilingi oleh kebencian. pernyataan-pernyataan kebencian, ujaran-ujaran negatif tentang orang lain.

rasanya kayak : udah deh. nggak setiap hari kok orang melakukan kesalahan. emang kita sebagai manusia aja yang selalu melihat orang dari buruknya. tidak ada yang salah dengan peribahasa : nila setitik merusak susu sebelanga. mau kamu baik bagaimanapun, orang akan terus menerus menaruh highlight pada keburukan. selalu.

jadi? yaudahlah, hidup biasa-biasa aja. santai-santai aja. tidak perlu terlalu benci pada hal-hal minor yang tidak prinsipil. apalagi kebencian-kebencian personal yang cuma jadi racun bagi perspektif kita terhadap orang lain. kadang-kadang menyenangkan loh melihat semuanya dari hal-hal yang positif.

“tapi dia emang orangnya kek gitu”
“ah, gue mah emang suka ngomongin orang dari dulu. dari sma gue sama temen temen gue blablabla”
“eh tapi seriusan dia itu kayak blablabla”

udahlah. kita bukan benda mati yang geraknya statis, kita ini dinamis. apa-apa yang pernah kita lakukan dan selalu kita lakukan tidak melulu berarti benar. dan apa-apa yang tidak pernah kita lakukan dan belum pernah kita dengar sebelumnya tidak melulu berarti salah.

barangkali benar kata seorang bijak bestari, mengapa kita di beri 2 mata dan 2 telinga tetapi hanya punya 1 mulut. mungkin kita memang di takdirkan untuk lebih banyak melihat dan mendengar daripada berbicara. mungkin kita harus lebih dulu memahami sebelum menilai.

tidak ada yang lebih baik dan lebih pantas di antara kamu dan saya. tidak ada. seperti yang saya bilang sebelumnya, manusia cenderung lebih senang melihat-lihat dan menunjuk-nunjuk kesalahan ketimbang merasakan kebaikan.

jadi, yaudah. mari hidup biasa-biasa saja dan membuang semua racun-racun berupa kebencian and chill.

yo.

“temukanlah agama yang paling benar dan baik buat lo, bukan agama yang by default diturunkan dari orangtua lo, gitu.”

-pandji.

begitulah hidup. cuma membolak balik buku sejarah.

gue. saya. aku. alah. belom juga mulai wes bingung mau pake kata ganti apa. mari kita putuskan.

jadi, saya memutuskan untuk memakai saya sebagai kata ganti orang pertama bagi saya sendiri. kalau-kalau kalian para  pembacaku, yang mana tidak pernah ada itu, mungkin bertanya-tanya, sedang apakah saya sekarang ini? maka, dengan berat hati, karena saya sebetulnya tidak ingin menjawabnya, maka saya akan menjawab bahwa saya berada di kamar kos-kosan saya yang berukuran 3×4 meter, dengan tv masih menyala, dan lampu yang dimatikan seluruhnya, sambil mengetik tulisan ini.

kalau-kalau lagi, ada yang bertanya kenapa saya menulis semalam ini? oh iya, bagi yang belum tahu, sekarang pukul 00.53 di tempat saya berada. well, kenapa saya menulis semalam ini? barangkali saya sedang rindu berat. tahu, kan, betapa seriusnya permasalahan ini sampai semua orang-orang entah siapa yang dikutip dalam official account LINE yang bernama Kumpulan Puisi berulang kali berusaha menuliskan yang mereka sebut sajak tentang hal ini. walaupun, yah, well, saya harus jujur, semua sajaknya sampah.

orang Indonesia terkenal sekali malas membaca. loh, kok malah jadi bajingan tukang menggeneralisir seperti ini? biar saja. toh, tidak akan ada yang mau baca. seperti halnya tidak akan ada yang peduli pada surat kabar atau buletin mahasiswa. yang rapatnya berbulan-bulan, memohon-mohon ratusan ribu rupiah pada bapak dekan yang mulia, kemudian memilih tema dengan pertimbangan demografi, geografi, pornografi, apalah sebagai macamnya. toh, ya, cuma berakhir jadi portofolio curriculum vitae untuk melamar kerja di bank terdekat.

alah. alah.

ndak ada yang percaya sama membaca. kecuali membaca  prestigeholics atau kumpulan puisi. ndak ada lagi yang percaya sama Pram atau Murakami atau Gabo Marquez atau Sutan Takdir Alisjahbana atau Teguh Karya atau Orhan Pamuk atau Han Kang, kecuali hipster-hipster bomber jacket yang pake kacamata bulat pepat seperti planet bumi. persetan.

sekarang saya akan terdengar sungguh negatif. tapi ndakpapa. saya sudah bosan jadi naif. saya sudah bosan berpikir positif dan menebar jala-jala kenaifan ini pada seluruh dunia. sampai akhirnya saya tahu, there is no such thing called ketulusan di dunia yang egois ini. ndak ada. satupun. semuanya saling terkait. seperti ungkapan “there is no free lunch”, ya itu benar juga. ndak ada satu orangpun di dunia ini yang mau perbuatannya di take it for granted. setiap saat kita mencoba untuk ikhlas dan tulus dalam berbuat, di detik yang sama kita akan langsung mencari-cari, kira-kira siapakah orang-orang atau hal lain yang menerima keuntungan dari perbuatan kita? setelah menimbang untung dan ruginya bagi kita, barulah kita akan melakukan hal tersebut.

semua ada hitung-hitungannya di dunia yang egois ini.

sampai sini, saya sudah cukup yakin bahwa tidak akan ada yang baca. toh, 9900 orang dari seribu orang Indonesia, entah siapa, yang di survey oleh lembaga entah apa menunjukkan kualifikasi bahwa mereka tidak suka membaca. jadi ya, sama saja. tapi hey, saya tidak bilang bahwa kalau kamu cuma suka baca sajak-sajak di line kumpulan puisi maka kamu lebih buruk dari orang-orang yang membaca Neruda. tapi, cuma, kalau kamu sudah baca Neruada mungkin kamu sedikit banyak paham maksud saya. tapi, hey lagi, saya mulai terdengar sok pintar, tapi persetanlah, memang banyak orang-orang dungu di luar sana yang menunggu untuk dikuliahi sepanjang hidupnya, jadi yasudahlah. toh, saya tidak akan bahas-bahas topik tertentu jadi well, ya, mari melantur dengan kata-kata amburadul dan mari melanggar ejaan yang disempurnakan. toh, apa salahnya menggunakan koma, berulang-,ulang, kali. ya itu disengaja. penggunaan kata dimana, disana, di sini, disitu, di mana-mana, dirumah, dimasjid, terseraaaaah. kok mau aja diatur-atur huruf.

sampai disini, ada yang mau ditanyakan?

kira-kira begitulah ucapan dosen-dosen saya ketika akan menutup presentasi mereka yang tidak jelas. yang satu kebanyakan gambar, yang satu kebanyakan tulisan, yang satu bacot doang, yang satu ngajar agama padahal ateis, yang satu ndak tau cara nyalain laptop, yo macem macem laah. universitas kelas dunia itu. jangan main-main kamu. bisa-bisa diciduk nanti.

tapi, yang paling terpenting dari semuanya adalah satu : saya rindu. ini betul-betul klise dan memuakkan. tapi dunia ini sudah penuh dengan hal-hal istimewa semenjak ada line today nampaknya (wow, mengejutkan, harga t-shirt polos yang dipakai Stefan William ; 10 artis yang mirip dengan artis hollywood, nomer 5 pasti mengagetkan ; dll, dsb). perihal seperti inilah yang men-triggered seorang Ayu Utami dan Erik Prasetya untuk menerbitkan buku berjudul Estetika Banal dan Spiritualisme Kritis. sebab, hal-hal klise semacam ini sudah terlalu jarang di angkat kembali. kita terlalu sibuk memikirkan hal-hal istimewa apakah yang hendak kita sajikan hari ini. tapi ternyata tidak harus selalu begitu.

seperti hari ini. saya rindu. rindu sekali. oh, betul sekali kalau kamu membayangkan dia adalah manusia dan ini merupakan rindu-rindu picisan itu. betul sekali.

saya akhir-akhir ini kehilangan bara api di kepala saya yang membuat saya tetap waras. barangkali kamu pemicunya. kita barangkali cuma dua bocah dungu yang gemar sekali menertawai diri sendiri, dan saya rupanya cuma lupa jalan pulang.